Rab. Okt 23rd, 2019

Panji Indonesia

SInergi untuk Perubahan

Dongeng Rumah Kebangsaan

2 min read

Suatu ketika, 29 Oktober malam di Teater Kecil, TIM, Cikini, Jakarta, sejumlah cerdik pandai memaklumatkan satu gerakan: Rumah Kebangsaan, Gerakan Indonesia Memilih. Sebuah niat luhur, yang layak diapresiasi. Niat luhur itu terpampang dari keinginan para cerdik pandai itu, memillih pemimpin ideal masa depan, yang bisa menjaga gawang Indonesia.

Inilah dongeng kaum cerdik pandai. Dongeng karena mencari pemimpin ideal tak serta merta ditelisik dari satu gerakan permanen seperti Rumah Kebangsaan. Seorang pemimpin lahir dan tumbuh tanpa ada rekayasa. Ia diamini kata-katanya dan laku hidupnya tanpa rekayasa. Lahir dan tumbuh secara alami.

Kaum cerdik pandai yang dipelopori Komaruddin Hidayat ini, sepertinya frustasi dengan karut marut persoalan yang melilit Indonesia. Persoalan pengkaderan yang buruk di tubuh partai. Partai politik hanya jadi lumbung menanam benih kekuasaan tanpa mau menjenguk bagaimana seorang pemimpin dibentuk.
Partai politik selalu saja bertimbang, pada kepentingan partai, pada ambisi para elit partai, tuk melanggengkan kekuasaan. Mereka tak lagi berpikir, ada puluhan juta orang, yang rindu kehadiran pemimpin seperti Soekarno dan Hatta. Soekarno dan Hatta adalah penarik gerbong pertama Indonesia, yang lahir karena integritas pribadi. Kemampuan intelektual dan pribadi yang tangguh itulah, yang menjadi pemicu Seokarno dan Hatta membuka kran bagaimana memilih seorang pemimpin yang baik.


Maka tak heran, jika Indonesia semakin hari semakin tak menemukan identitas diri. Sebagai bangsa, Indonesia tak bisa dibaca lagi. Aura politik yang menghalalkan segala cara, di mana harga diri bisa dibeli dengan lembaran puluhan ribu. Manusia Indonesia kehilangan ruh. Yang tersisa darah daging. Jika demikian sosok manusia Indonesia kini, ia tak ubahnya mayat hidup, monster-monster yang mengejar korban tuk menghisap darah.
Atau menurut Gayatri Spivak, dengan konsep ”subaltern”, manusia Indonesia sudah masuk perangkap subaltern. Subaltern mengandaikan seluruh subyek yang tertekan, lemah, dan marjinal.

Mereka adalah kaum terjajah yang inferior dan bisu. Dari fenomena sublatern ini, Spivak berhasil memperlihatkan, bahwa dalam “kolonialisme” tidak hanya terjadi penaklukan fisik, namun juga penaklukan pikiran, jiwa, dan budaya.


Kekuatan partai politik memilih calon pemimpin, baik di tingkat bupati/walikota, gubernur hingga presiden, seolah-olah masuk dalam praktik kolonialisme, di mana individu direkayasa dan dijadikan boneka partai.


Kepada kaum cerdik pandai, penggagas Rumah Kebangsaan, pekerjaan rumah terberat adalah membenahi diri sendiri. Benahi dulu pribadi-pribadi para penggagas, baik urusan rumah tangga atau komunikasi antar sesama. Pada titik ini, mereka banyak bermasalah. Logikanya sangat sederhana. Bagaimana kita bisa membentuk pemimpin yang kredibel, jika dalam diri kita tak mampu menjadi pemimpin dalam wilayah mikro; ruang keluarga, ruang dusun, di mana kita berteduh. Mulailah dari diri sendiri, sebelum menyapa orang lain.


More Stories

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may have missed

Panji Indonesia Raya © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.