Foto : Indozon.id

PANJI-INDONESIA | JAKARTA — Konsultan Spesialis Anak, Ida Safitri Laksanawati, menyatakan, anak-anak memiliki risiko paparan yang sama terhadap Covid-19 dengan orang dewasa. Dia mengatakan, hal yang perlu diperhatikan apabila anak terkena Covid-19 adalah gejala long covid yang saat ini sudah mulai banyak dilaporkan.

“Anak-anak memiliki risiko paparan yang sama terhadap Covid-19 dibanding orang dewasa. Tapi kita tahu tingkat keparahan dan risiko terjadinya kematian atau fatalitas lebih rendah,” ungkap Ida dalam webinar yang digelar Yayasan Lentera Anak, Kamis (2/9).

Anak, kata dia, memiliki risiko yang lebih rendah ketimbang orang dewasa atau lansia. Namun, jika dibandingkan dengan sesama anak-anak, risiko anak yang lebih muda lebih tinggi untuk mendapatkan penyakit yang lebih berat. Apalagi jika anak tersebut memiliki riwayat kelahiran yang prematur karena sistem imun yang belum bekerja dengan baik.

Ida mengatakan, hal yang juga harus diwaspadai lainnya adalah mengenai obesitas pada anak. Menurut dia, sudah banyak laporan kasus anak dengan obesitas yang mempunyai risiko lebih tinggi sakitnya menjadi lebih berat. Kemudian adanya penyakit penyerta atau komorbid juga menjadi salah satu faktor penyebab risiko lainnya.

“Kematian pada anak-anak terjadi pada mereka yang memiliki komorbid atau dengan penyakit yang sudah ada sebelumnya,” ungkap dokter dari Universitas Gadjah Mada itu.

Ida kemudian menyinggung soal long covid pada anak. Dia menyebutkan, itu harus diwaspadai karena sudah mulai banyak laporan mengenai hal tersebut. Meski begitu, gejala-gejala yang menetap atau berkepanjangan pada anak itu umumnya ringan, tidak berat.

“Sekitar 12 persen terjadi pada anak usia 2-11 tahun yang masih terus mengeluhkan keluhan-keluhan masih lemaslah, batuk, sampai lima pekan. Kemudian anak yang lebih besar dia juga masih mendapatkan keluhan-keluhan yang serupa,” tutur dia.

Lebih lanjut dia menerangkan gejala-gejala yang timbul akibat long covid pada anak, di antaranya ialah kesulitan untuk tidur, merasa kelelahan, merasa sulit untuk berkonsentrasi, dan lainnya. Soal kesulitan berkonsentrasi, dia mengatakan, hal itu harus dicermati oleh tenaga pendidikan atau orang tua karena anak-anak sudah melakukan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas.

“Anak-anak yang tercatat bahwa mereka pernah terpapar kemudian seperti ada hambatan dalam pembelajaran, mungkin itu bagian dari long covid. Tapi ya tentu ada hal (pemeriksaan lanjutan) yang harus diikuti,” jelas dia.

Ida menjelaskan, upaya pencegahan paparan Covid-19 terhadap anak sebenarnya tidak jauh berbeda dengan orang dewasa. Penerapan protokol kesehatan (Prokes) dan 5M secara terus-menerus, serta dengan pemberian vaksinasi kepada orang dewasa dan juga anak usia 12-17 tahun dapat menjadi upaya komprehensif untuk menekan laju penularan Covid-19 pada anak.

“Pencegahan dengan merenapkan prokes secara terus menerus konsiten dibarengi dengan pemberian vaksnasi menjadi upaya komprehensif untuk menekan laju penularan Covid-19 pada anak,” jelas dia.

TEKS : REPUBLIKA.CO.ID | FOTO / ILUSTRASI : INDOZONE.ID

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here