Buya DR Syech Muhammad Nur Ali, S.Ag, M.Hum, Pimpinan Thareqat Naqsabandiyah Al Kholidiyah Jalaliyah (TNAJ).
Tak ada yang tidak tak terwujud bila semua dilakukan atas dasar kesungguhan dan niat tulus. Pun demikian halnya, ketika seseorang sedang ingin “menjemput cahaya” Allah Swt melalui ibadah (suluk). Tak kenal jarak, waktu dan biaya. Semua hajat terwujud, dan Allah pun “memperjalankan” setiap hamba-Nya. Inilah secuil kisah perjalanan tiga hamba Allah yang harus memungut sampah, demi sependar cahaya bagi kita, sebagai cermin bagi semua.

Senyuman Khalifah Ridho mekar mengenang kisah memungut sampah di pinggiran pantai Napal. Semilir angin sore itu membawa ingatannya pada awal hendak berangkat ibadah Suluk di pusat Thareqat Naqsabandiyah Al Kholidiyah Jalaliyah (TNAJ).

Tuan Khalifah Ridho bersama tuan Khalifah Hamzah dan tuan Khalifah Nur Salim adalah tiga dari sekian banyak jemaah TNAJ pimpinan Buya DR Syech Muhammad Nur Ali, S.Ag, M.Hum, yang berada di Provinsi Lampung. Mereka adalah keturunan suku asli Lampung yang menimba ilmu agama di Pesantren Yayasan Buya DR Syech Salman Daim di Bandar Tinggi, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.

Hari mulai senja, nyiur pun melambai dikipas angin laut Samudera Fasifik. Deruan ombak laut menyapa kaki kami menelusuri pinggiran pantai Napal yang berada di ujung pulau Sumatera.

Khalifah Ridho

“Saya masih ingat bersama tuan Khalifah Hamzah memungut sampah tiap malam di pinggir pantai ini. Sampah itu kami kumpul untuk biaya ibadah Suluk ke Bandar Tinggi,” kenang Khalifah Ridho membuka pembicaraan.

Niat yang begitu kuat ingin Suluk itu ternyata bukan dari hasil memulung. Menurut Khalifah Hamzah, belum lagi menjual hasil memulung itu sudah mendapatkan rezeki untuk biaya berangkat Suluk ke Bandar Tinggi.

Dari Desa Napal, Kecamatan Kelumbayan, Kabupaten Tenggamus, menuju Bandar Lampung berjarak 68 KM. Menuju ibukota Provinsi Lampung, harus menempuh perjalanan yang sangat extrim. Bagaimana tidak, mereka harus mendaki sedikitnya empat gunung, menelusuri pantai dan melintasi lembah. Diperkirakan memakan waktu sekitar dua setengah jam perjalanan.

Tiba di Bandar Lampung, mereka nyambung naik bus jurusan kota Medan. Tidak sedikit biaya yang harus keluar untuk ongkos sampai di Bandar Tinggi. Jika diperhitungkan, biaya yang harus disiapkan mencapai Rp.4 juta per orang.

Khalifah Hamzah

“Kami memang biasa suluk di Bandar Tinggi, karena mengingat jarak kami jauh sehingga kami suluk mengambil waktu yang lama. Saya kalau suluk 4 bulan, tuan Ridho dan tuan Nur Salim mengambil Suluk 60 hari,” sambung tuan Hamzah.

Pembicaraan pun berlanjut tanpa terasa air mata tuan Khalifah Ridho pun jatuh dibalik senyumnya. Rupanya dia menanggung rindu akan Bandar Tinggi. Tepian pantai Napal menjadi tempat merenung ketiga Khalifah Buya. Air mata kerinduan mereka seolah bercampur dengan air laut untuk menyampaikan pesan kerinduan tersebut.

“Kami niat Suluk tu sebenarnya nak jumpa Buya aja. Jumpa Buya. Udah itu saja. Kami nak menunjukkan bahwa inilah kami, jemaah Buya dari ujung pulau Sumatera,” tegas Khalifah Ridho.

Sejenak pembicaraan terhenti. Semua menatap ke tengah laut Samudra Fasifik. Entah apa yang ada dalam pikiran kami masing masing. Tak lama, lamunan itu pecah dikejutkan kedatangan tuan SM Muhammad Abdul Malik mengendarai sepeda motor pinjaman mengajak kami bersiap diri untuk melaksanakan tawajuh di kediaman tuan Khalifah Hamzah.

Setelah tawajuh. Kami pun menyantap ikan bakar yang disuguhkan istri tuan Khalifah Hamzah.

Perjalan yang sangat menakjubkan. Pelajaran yang menggairahkan perjuangan ibadah dari Khalifah Hamzah. “Cinta membawa kita pada Buya,”.

TEKS/FOTO : KABARSUMATERA.COM/YUDI SILAEN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here